Sejak kejadian malam itu,
kesibukan di kantorku yang luar biasa membuatku sering pulang larut malam.
Kepenatanku selalu membuatku langsung tertidur lelap. Kesibukan ini bahkan
membuat aku jarang bisa berkomunikasi dengan Tati. Walaupun begitu, sering juga
aku mempergunakan waktu makan siangku untuk mampir ke rumah dengan maksud untuk
melakukan seks during lunch. Sayang, di waktu tersebut ternyata Ayah Anto
senantiasa dalam keadaan bangun sehingga niatku takpernah kesampaian. Namun
suatu hari aku cukup beruntung walaupun orang tua itu tidak tidur. Aku mendapat
apa yang kuinginkan.
Ceritanya sebagai berikut:
Tati diminta oleh Ayah Anto untuk mengambil
sesuatu di kamarnya. Melihat peluang itu, aku diam-diam mengikutinya dari
belakang.Kamar ayah Anto memang tidak terlihat dari tempat di mana orang tua
itu biasa duduk. Sesampainya di kamar kuraih pinggang semampai perawat itu dari
belakang. Tati terkejut dan tertawa kecil ketika sadar siapa yang memeluknya
dan tanpa basa-basi langsung menyambut ciumanku dengan bibirnya yang mungil itu
sambil dengan buas mengulum lidahku. Ia memang sudah tidak malu-malu lagi
seperti awal pertemuan kami. Janda cantik itu sudah menunjukkan karakternya
sebagai seorang pecinta sejati yang tanpa malu-malu lagi menunjukkan kebuasan
gairahnya. Kadang aku tidak mengerti, kenapa suaminya tega meninggalkannya. Namun
analisaku mengatakan, suaminya tak mampu mengimbangi gejolak gairah Tati di
atas ranjang dan untuk menutupi rasa malu yang terus menerus terpaksa ia
meninggalkan perempuan muda itu untuk hidup bersama dengan perempuan lain yang
lebih ‘low profile’. Aku memang belum sempat menanyakan pada Tati bagaimana ia
menyalurkan kebutuhan biologisnya di saat menjanda. Aku berpikir, bawa
masturbasi adalah jalan satu-satunya. Kami berdua masih saling berciuman dengan
ganas ketika dengan sigap aku menyelipkan tanganku ke balik baju perawatnya
yang putih itu. Sungguh terkejut ketika aku sadar bahwa ia sama sekali tidak
memakai BH sehingga dengan mudahnya kuremas buah dada kanannya yang ranum itu.
“Kok ngga pakai BH Mbak..?”
Sambil menggelinjang dan mendesah, ia menjawab sambil tersenyum nakal.
“Supaya gampang diremas sama
kamu..”. Benar-benar jawaban yang menggemaskan!
Kembali kukulum bibir dan lidahnya
yang menggairahkan itu sambil dengan cepat kubuka kancing bajunya yang pertama,
kedua, dan ketiga. Lalu tanpa membuang waktu kutundukkan kepalaku, dengan
tangan kananku kukeluarkan buah dada kanannya dan kuhisap sedemikian rupa
sehingga hampir setengahnya masuk ke dalam mulutku. Tati mulai mengerang
kegelian,
“Ouhh.., geli Mas.., geliii..,
ahh..”. Sejak kejadian malam itu, ia memang membiasakan dirinya untuk
memanggilku Mas.
Sambil menggelinjang dan merintih, tangan
kanan Tati mulai mengelus-elus bagian depan celana kantorku. Penisku yang
terletak tepat di baliknya terasa semakin menegang dan menegang. Jari-jari
lentik perempuan itu berusaha untuk mencari letak kepala penisku untuk kemudian
digosok-gosoknyadari luar celana. Sensasi itu membuat nafasku semakin memburu
seperti layaknya nafas kuda yang tengah berlari kencang. Seakan tak mau kalah
darinya, tangan kiriku berusaha menyingkap rok janda muda itu dan dengan sigap
kugosokkan jari-jemariku di celana dalamnya. Tepat diatas vaginanya, celana
dalam Tati terasa sudah basah.
Sungguh hebat! Hanya dalam
beberapa menit saja, ia sudah sedemikian terangsangnya sehingga vaginanya sudah
siap untuk dimasuki oleh penisku. Tanpa membuang waktu kuturunkan celana dalam
tipis yang kali ini berwarna hitam, kudorong tubuh montok perawat itu ke
dinding, lalu kuangkat paha kanannya sehingga dengkulnya menempel di
pinggangku. Dengan sigap pula kubuka ritsluiting celanaku dan kukeluarkan
penisku yang sudah sangat tegang dan besar itu. Tati sudah nampak pasrah. Ia
hanya bersender di dinding sambil memejamkan matanya dan memeluk bahuku.
“Tatiii.., mana minyak
tawonnya.., kok lama betuul”. Suara orang tua itu terdengar dengan keras.
Sungguh menjengkelkan. Tati sempat terkejut dan nampak panik ketika kemudian
aku berbisik,
“Tenang Mbak.., jawab aja.., kita
selesaikan dulu ini.., kamu mau kan?” Ia mengangguk seraya tersenyum manis.
“Sebentar Pak..”, teriaknya.
“Minyak tawonnya keselip entah ke
mana.., ini lagi dicari kok”. Ia tertawa cekikikan, geli mendengar jawaban
spontannya sendiri.
Namun tawanya itu langsung berubah menjadi
jerikan erotis kecil ketika kupukul-pukulkan kepala penisku ke selangkangannya.
Perlahan-lahan kutempelkan kepala penisku itu di pintu vaginanya. Sambi
kuputar-putar kecil kudorong pinggulku perlahan-lahan. Tati ternganga sambil
terengah-engah,
“aahh.., aahh.., ouhh.., Mas.., besar
sekali.., pelan-pelan Mas..pelan-pelanhh..”, dan,
“aa”. Tati menjerit kecil ketika
kumasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang becek dan terasa sangat
sempit dalam posisi berdiri ini.
Aku menyodokkan penisku maju
mundur dengan gerakan yang percepatannya meningkat dari waktu ke waktu. Tubuh
Tati terguncang-guncang, buah dadanya bergayut ke kiri dan kanan dan jeritannya
semakin menjadi-jadi. Aku sudah tak peduli kalau ayah Anton sampai mendengarkan
jeritan perempuan itu. Nafsuku sudah naik ke kepala. Janda mudaini memang
memiliki daya pikat seks yang luar biasa. Walaupun ia hanya seorang perawat,
namun kemulusan dan kemontokan badannya sungguh setara dengan perempuan kota
jaman sekarang. Sangat terawat dan nikmat sekali bila digesek-gesekkan di kulit
kita. Gerakan pinggulku semakin cepat dan semakin cepat. Mulutku tak
puas-puasnya menciumi dan menghisap puting buah dadanya yang meruncing panjang
dan keras itu. Buah dadanya yang kenyal itu hampir seluruhnya dibasahi oleh air
liurku. Aku memang sedang nafsu berat. Aku merasakan bahwa sebentar lagi aku
akan orgasme dan bersamaan dengan itu juga tubuh Tati menegang. Kupercepat
gerakan pinggulku dan tiba-tiba,
“aahh.., Mas.., Masss, aku
keluarrr.., aahh”, Jeritnya.
Saat itu juga kusodokkan penisku
ke dalam vagina jandamuda itu sekeras-kerasnya dan, “Craat.., craatt.., craat”.
“Ahh…, Mbaak”, erangku sambil
meringis menikmati puncak orgasme kami yang waktunya jatuh bersamaan itu. Kami
berpelukan sesaat dan Tati berbisik dengan suara serak.
“Mas.., aku ngga pernah dipuasin
laki-laki seperti kamu muasin saya.., kamu hebat..”. Aku tersenyum simpul.
“Mbak., aku masih punya 1001
teknik yang bisa membuat kamu melayang ke surga ke-7.., ngga bosankan kalo lain
waktu aku praktekkan sama kamu?”. Perlahan Tati menurunkan paha kanannya dan
mencabut penisku dari vaginanya.
“Bosan? Aku gila apa.., yang
beginian ngga akan membuatku bosan.., kalau bisa tiap hari aku mau Mas..”.
Benar-benar luar biasa libido perempuan ini.
Beruntung aku mempunyai libido
yang jugaluar biasa besarnya. Sebagai partner seks, kami benar-benar seimbang.
Setelah kejadian siang itu, aku dan Tati seperti pengantin baru saja. Tak ada
waktu luang yang tak terlewatkan tanpa nafsu dan birahi. Walaupun demikian, aku
tekankan pada Tati, bahwa hubungan antara aku dan dia, hanyalah sebatas
hubungan untuk memuaskan nafsu birahi saja. Aku dan dia punya hak untuk
berhubungan dengan orang lain. Tati si janda muda yang sudah merasakan
kenikmatan seks bebas itu tentu saja menyetujuinya.
Suatu hari, Tati masuk ke dalam
kamarku dan ia berkata,
“Mas, aku akan mengambil cuti
selama 1 bulan. Aku harus mengurusi masalah tanah warisan di kampungku..”.
“Lha.., kalau Mbak pulang, siapa yang akan
mengurusi Bapak?”, tanyaku sambil membayangkan betapa kosongnya hari-hariku
selama sebulan ke depan.
“Mas Anto bilang, akan ada adik Bapak yang
akan menggantikan aku selama 1 bulan.., namanya Mbak Ine.., dia ngga kimpoi..,
umurnya sudah hampir 40 tahun.., orangnya baik kok.., cerewet.., tapi ramah..”.
Yah apa boleh buat, aku terpaksa kehilangan
seorang teman berhubungan seks yang sangat menggairahkan. Hitung-hitung cuti 1 bulan.., atau kalau berpikir positif.., its
time to look for a new partner!!!
bersambung ke bandung lautan asmara part 3
0 comments:
Post a Comment