Sore itu aku sudah berada di
rumah. Karena load pekerjaan di kantorku tidak begitu tinggi, aku sengaja
pulang cepat. Selesai mandi aku duduk di meja makan sambil menikmati pisang
goreng buatan teh Ine. Perempuan binal itu memang luar biasa. Ia melayaniku
seperti suaminya saja. Segala keperluan dan kesenanganku benar-benar
diperhatikan olehnya. Seperti biasa, aku mengenakan baju kaos buntung dan celana
pendek longgar kesukaanku dan (seperti biasa juga) aku tidak menggunakan celana
dalam. Kebiasaan ini kumulai sejak adanya teh Ine di rumah ini, karena bisa
dipastikan hampir tiap hari aku akan menikmati tubuh sintal adik ipar ayah si
Anto itu.
Sambil menikmati pisang goreng di
meja makan, aku bercakap-cakap dengan ayah Anto. Orang tua itu duduk di pojok
ruangan dekat pintu masuk untuk menikmati semilirnya angin sore kota Bandung.
Jarak antara aku dengannya sekitar 6 meter. Sambil bercakap-cakap mataku tak
lepas dari teh Ine yang mondar mandir menyediakan hidangan sore bagi kami.
Entah ke mana PRT kami saat itu. Teh Ine mengenakan celana pendek yang ditutupi
oleh kaos bergambar Mickey Mouse berukuran ekstra besar sehingga sering tampak
kaos itu menutupi celana pendeknya yang memberi kesan teh Ine tidak mengenakan
celana. Aku berani bertaruh perempuan itu tidak menggunakan BH karena bila ia
berjalan melenggang, tampak buah dadanya bergayut ke atas ke bawah, dan di
bagian dadanya tercetak puting buah dadanya yang besar itu. Tanpa sadar batang
penisku mulai membesar. Setelah selesai dengan kesibukannya, teh Ine duduk di
sebelah kiriku dan ikut menikmati pisang goreng buatannya. Kulihat ia melirik
ke arahku sambil memasukkan pisang goreng perlahan-lahan ke dalam mulutnya.
Sambil mengerdipkan matanya, ia
memasukkan dan mengeluarkan pisang goreng itu dan sesekali menjilatnya. Dengan
terus berbasa basi dengan orang tua Anto, aku menelan ludah dan merasakan bahwa
urat-urat penisku mulai mengeras dan kepala penisku mulai membesar. Tiba-tiba
kurasakan jari-jemari kanan teh Ine menyentuh pahaku. Lalu perlahan-lahan
merayap naik sampai di daerah penisku. Dengan gemas teh Ine meremas penis
tegangku dari luar celanaku sehingga membuat cairan beningku membuat tanda bercak
di celanaku. Setelah beberapa lama meremas-remas, tangan itu bergerak ke daerah
perut dan dengan cepat menyelip ke dalam celana pendekku. Aku sudah tidaktahu
lagi apa isi percakapan orang tua Anto itu.
Beberapa kali ia mengulangi
pertanyaannya padaku karena jawabanku yang asal-asalan. Degup jantungku mulai
meningkat. Jemari lentik itu kini sudah mencapai kedua bolaku. Dengan jari
telunjuk dan tengah yang dirapatkan, perempuan lajang itu mengelus-elus dan
menelusuri kedua bolaku.., mula-mula berputar bergantian kiri dan kanan
kemudian naik ke bagian batang.., terus bergerak menelusuri urat-urat tegang
yang membalut batang kerasku itu,
“sss…, teteh..”. Aku berdesis
ketika kedua jarinya itu berhenti di urat yang terletak tepat di bawah kepala
penisku.., itu memang daerah kelemahanku.., dan perempuan sintal ini
mengetahuinya.., kedua jemarinya menggesek-gesekkan dengan cepat urat penisku
itu sambil sesekali mencubitnya.
“aahh…”, erangku ketika akhirnya
penisku masuk ke dalam genggamannya.
“Kenapa Rafi?”, Orang tua yang
duduk agak jauh di depanku itu mengira aku mengucapkan sesuatu.
“E.., ee…, ndak apa-apa Pak..”,
Jawabku tergagap sambil kembali meringis ketika teh Ine mulai mengocok penisku
dengan cepat.
Gila perempuan ini! Dia
melakukannya di depan kakaknya sendiri walaupun tidak kelihatan karena
terhalang meja.
“Saya cuma merasa segar dengan
udara Bandung yang dingin ini..”, Jawabku sekenanya.
“Ooo begitu.., saya pikir kamu
sakit perut.., habis tampangmu meringis-meringis begitu..”, Orang tua itu
terkekeh sambil memalingkan mukanya ke jalan raya.
Begitu kakaknya berpaling, teh
Ine dengan cepat merebahkan kepalanya ke pangkuanku sehingga dari arah ayah
Anto, teh Ine tak tampak lagi. Dengan cepat tangannya memelorotkan celanaku
sehingga penisku yang masih digenggamnya dengan erat itu terasa dingin terterpa
angin. Sejenak perempuan itu memandang penis besarku itu.., ia selalu
memberikan kesempatan pada matanya untuk menikmati ukuran dan kekokohannya.
Kemudian teh Ine menjulurkan
lidahnya dan mulai menjilat mengelilingi lubang penisku.., kemudian ia
memasukkan ujung lidahnya ke ujung lubang penisku dan mengecap cairan
beningku.., lalu lidahnya diturunkan lagi-lagike urat di bawah penisku. Aku
mulai menggelinjang-gelinjang tak karuan, walaupun dengan hati-hati takut ketahuan
oleh kakak teh Ine yang duduk di depanku. Tanganku mulai meraba-raba buah
dadanya yang besar itu dan meremasnya dengan gemas,
“sss.., teeehh..”, desisku agak
keras ketika perempuan itu dengan kedua bibirnya menyedot urat di bawah kepala
penisku itu.., sementara tangannya meremas-remas kedua bolaku…, aawwww
nikmatnya…, aku begitu terangsang sehingga seluruh pori-pori kulitku meremang
dan mukaku berwarna merah. Aku sudah dalam tahap ingin menindih dan sesegera
mungkin memasukkan penisku ke dalam vagina perempuan ini tapi semua itu tak
mungkin kulakukan di depan kakaknya yang masih duduk di depanku menikmati lalu
lalang kendaraan di depan rumahnya.
Tiba-tiba bibir teh Ine bergerak
dengan cepat ke kepala penisku.., sambil terus kupermainkan putingnya kulihat
ia membuka mulutnya dengan lebar dan tenggelamlah seluruh penisku ke dalam
mulutnya. Aku kembali mendesis dan meringis sambil tetap duduk di meja
makanmendengarkan ocehan orang tua Anto yang kembali mengajakku berbincang.
Mulut teh Ine dengan cepat menghisap dan bergerak maju mundur di penisku.
Tanganku menarik dasternya ke atas dari arah punggung sehingga terlihatlah
pantatnya yang mulus tidak ditutupi oleh selembar benangpun. Aku ingin menjamah
vaginanya, ingin rasanya kumasukkan jari-jariku dengan kasar ke dalamnya dan
kukocok-kocok dengan keras tapi aku sudah tak kuat lagi. Jilatan lidah,
kecupan, dan sedotan teh Ine di penisku membuat seluruh syarafku menegang.
Tiba-tiba kujambak rambut teh Ine dan kutekan sekuat-kuatnya sehingga seluruh
penisku tenggelam ke dalam mulutnya. Kurasakan ujung penisku menyentuh
langit-langit tenggorokan teh Ine dan,
“Creeet…, creeett…, creeettt”,
menyemburlah cairan maniku ke mulut teh Ine.
“Ahh…, aahh.., aahh..,
tetteeehh…”, Aku meringis dan mendesis keras ketika cairan maniku bersemburan
ke dalam mulut teh Ine.
Perempuan itu dengan lahap
menjilati dan menelan seluruh cairanku sehingga penisku yang hampir layu
kembali sedikit menegang karena terus-terusan dijilat. Aku memejamkan mataku..,
gilaa.., permainan ini benar-benar menakjubkan. Ada rasa was-was karena takut
ketahuan, tapi rasa was-was itu justru meningkatkan nafsuku. Teh Ine memandang
penisku yang sudah agak mengecil namun tetap saja dalam posisi tegak.
“Luar biasa…”, Bisiknya,
“Siap-siap nanti malam yah?”
Katanya sambil bangkit dan beranjak ke dapur.
Aku cukup kagum dengan prestasi
yang kucapai di rumah ini. Baru 2 bulan di Bandung, aku sudah bisa meniduri 2
orang wanita yang sudah lama tidak pernah menikmati sentuhan lelaki. Dan
wanita-wanita itu, aku yakin akan selalu termimpi-mimpi akan besar dan
nikmatnya gesekan penisku di dalam vagina mereka.
Selesai dulu ya.
0 comments:
Post a Comment